SPP Dilunasi, Ijazah Dibagikan, Pendidikan Gratis Makin Luas di Semarang
SEMARANG, (Adaharapan.net) - Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti bersama Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, dunia pendidikan di Ibu Kota Jawa Tengah mendapat perhatian serius.
Bukan sekadar membangun gedung sekolah, tetapi lebih dari itu, anak-anak dari keluarga miskin kini bisa sekolah tanpa terbebani biaya, ijazah yang tertahan bertahun-tahun akhirnya bisa diambil, dan guru-guru swasta mendapat bantuan operasional.
Program unggulan "Semarang Cerdas" menjadi salah satu fondasi penting dalam lima tagline pembangunan yang diusung pasangan Agustin-Iswar, Semarang Bersih, Semarang Sehat, Semarang Cerdas, Semarang Makmur, dan Semarang Tangguh.
Ke lima pilar ini dikolaborasi menjadi program kerja yang saling berkesinambungan, membentuk siklus transformasi berkelanjutan.
"Pendidikan adalah kunci masa depan. Kami ingin semua anak Semarang, siapa pun dia, dari keluarga mana pun, punya kesempatan yang sama untuk bersekolah dan berprestasi," ujar Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, belum lama ini.
"Semarang Cerdas adalah wujud komitmen kami untuk tidak meninggalkan satu pun anak di kota ini," imbuhnya.
Hasilnya pun terlihat nyata. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Semarang tahun 2025 mencapai angka 85,80 atau masuk kategori sangat tinggi, sekaligus menjadi yang tertinggi di Jawa Tengah.
Rata-rata Lama Sekolah warga Semarang berada di angka 11,11 tahun, menunjukkan bahwa akses pendidikan semakin terbuka lebar.
Tingkat kepuasan warga terhadap kinerja Agustina-Iswar pun mencapai 83,6 persen berdasarkan Survei Litbang Kompas.
Beban SPP Tertunggak Dilunasi, Anak-anak Kini Bisa Tenang Belajar
Salah satu masalah klasik dalam dunia pendidikan adalah tunggakan SPP yang membuat anak-anak cemas dikeluarkan dari sekolah. Pemerintah kota turun tangan langsung menyelesaikan masalah ini.
Sepanjang 2025, pemerintah kota telah membayarkan SPP tertunggak sebanyak 122 anak dari 15 sekolah di Kota Semarang dengan total nilai Rp71.393.000.
Mereka adalah anak-anak dari keluarga tidak mampu yang selama ini terbebani utang sekolah.
Meski masih ada 1.053 anak yang tercatat memiliki tunggakan SPP, langkah ini menjadi awal yang baik. Pemerintah berkomitmen untuk terus mencari solusi agar tidak ada lagi anak putus sekolah karena alasan biaya.
"Saya tidak ingin ada anak Semarang yang tidak naik kelas atau tidak ambil rapor karena orang tuanya tidak bisa bayar SPP. Pendidikan adalah hak mereka, dan negara harus hadir," tegas Agustina.
Sekolah Swasta Gratis, Pemerintah Bantu Biaya Operasional
Pemerintah kota juga memberikan perhatian besar pada sekolah swasta. Melalui program Hibah P-BOSP (Pembiayaan Bantuan Operasional Sekolah Swasta) , ribuan siswa di sekolah swasta mendapat keringanan biaya.
Data tahun 2025 menunjukkan,
· 41 TK swasta dengan 2.148 peserta didik mendapat bantuan Rp1,2 juta per anak per tahun
· 47 SD swasta dengan 7.770 peserta didik mendapat bantuan Rp1,5 juta per anak per tahun
· 44 SMP swasta dengan 6.422 peserta didik mendapat bantuan Rp1,8 juta per anak per tahun
Total ribuan siswa dari keluarga kurang mampu kini bisa bersekolah di sekolah swasta tanpa khawatir biaya. Pemerintah juga memberikan keringanan PBB untuk 35 sekolah swasta sebagai bentuk dukungan agar sekolah bisa fokus pada peningkatan mutu pendidikan.
Pada tahun 2025, program sekolah swasta gratis ini secara keseluruhan menjangkau 129 sekolah dengan anggaran Rp25,79 miliar. Rencananya, pada tahun 2026 program ini akan diperluas menjadi 135 sekolah.
Selain itu, pemerintah memberikan bantuan operasional bagi 1.482 guru sekolah swasta yang belum tersertifikasi. Bantuan ini diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan guru dan motivasi mereka dalam mengajar.
"Sekolah swasta adalah mitra pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa. Kami ingin mereka kuat, gurunya sejahtera, dan siswanya bisa belajar dengan nyaman," jelas Agustina.
Upaya ini berhasil menekan angka putus sekolah. Berdasarkan data tahun 2025, angka putus sekolah tingkat SD/MI 0 persen dan tingkat SMP/MTs hanya 0,01 persen angka yang sangat minim.
Ijazah Tertahan Akhirnya Dibagikan, Masa Depan Anak Terbuka Kembali
Masalah klasik lainnya adalah ijazah yang tertahan di sekolah karena berbagai alasan, biasanya terkait biaya.
Ijazah adalah pintu masuk untuk melanjutkan pendidikan atau melamar pekerjaan. Tanpa ijazah, masa depan anak bisa terhambat.
Pemerintah kota bergerak cepat. Sepanjang 2025, sebanyak 374 ijazah berhasil dibagikan kepada pemiliknya dari 36 sekolah di Kota Semarang.
Namun, pekerjaan rumah masih besar. Masih ada 10.335 ijazah yang tertahan di berbagai sekolah. Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong penyelesaian masalah ini agar tidak ada lagi anak Semarang yang masa depannya terhambat hanya karena selembar ijazah.
"Ijazah itu hak anak, bukan barang jaminan. Saya minta sekolah-sekolah untuk tidak menahan ijazah muridnya. Kalau ada masalah biaya, kita cari solusi bersama. Yang penting anak bisa melanjutkan masa depannya," tegas Wali Kota Semarang
Beasiswa untuk Siswa dan Mahasiswa Miskin Berprestasi
Pemerintah kota Semarang juga mengalokasikan beasiswa bagi siswa dan mahasiswa dari keluarga miskin yang berprestasi.
Tahun 2025, ribuan penerima manfaat telah memperoleh beasiswa :
· 2.649 siswa SD/MI mendapat Rp600.000 per tahun
· 1.129 siswa SMP/MTs mendapat Rp900.000 per tahun
· 468 siswa SMA/SMK/MA mendapat Rp1,2 juta per tahun
· 12 mahasiswa miskin berprestasi mendapat Rp6 juta per tahun
Beasiswa ini diharapkan bisa meringankan beban orang tua dan memotivasi anak-anak untuk terus berprestasi.
Target tahun 2026, pemerintah akan memperluas program beasiswa dengan rincian :
· Beasiswa miskin jenjang SD/MI: 8.834 siswa
· Beasiswa miskin jenjang SMP/MTs: 2.594 siswa
· Beasiswa miskin jenjang SMA/SMK: 1.635 siswa
· Beasiswa siswa miskin dan berprestasi jenjang perguruan tinggi: 59 siswa
· Beasiswa siswa berprestasi: 35 siswa
"Anak pintar dari keluarga miskin harus kita pastikan tetap bisa sekolah. Beasiswa ini adalah investasi masa depan Semarang. Mereka kelak akan menjadi pemimpin dan penggerak kota ini," katanya.
Ruang Kelas Baru dan Perbaikan Sekolah: Belajar Makin Nyaman
Fasilitas belajar yang nyaman adalah hak setiap siswa. Pemerintah kota membangun dan memperbaiki ratusan ruang kelas di berbagai sekolah.
Sepanjang 2025, 43 ruang kelas baru SD berhasil dibangun di delapan SD negeri. Selain itu, 336 ruang kelas SD diperbaiki di 115 SD negeri. Di tingkat SMP, pemerintah membangun 24 ruang kelas baru di enam SMP negeri, serta melakukan perbaikan sembilan ruang kelas di tiga SMP negeri.
Foto-foto sebelum dan sesudah perbaikan menunjukkan perubahan signifikan. Ruang kelas yang dulu gelap dan kumuh kini terang, bersih, dan nyaman untuk belajar.
"Belajar tidak bisa maksimal kalau ruang kelasnya bocor, bangkunya rusak, dan catnya kusam. Kami benahi satu per satu agar anak-anak betah di sekolah," jelasnya.
Upaya ini sejalan dengan peningkatan Rapor Pendidikan Kota Semarang dari 83,66 menjadi 84,12, serta penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri dalam kategori perbaikan akses layanan pendidikan.
Literasi dan Numerasi Meningkat, Gerakan Bunda Literasi hingga Antologi Cerpen
Pemerintah kota tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas pembelajaran.
Program Bunda Literasi, pelatihan menulis cerpen bagi siswa SD dan SMP, serta penerbitan antologi cerpen yang melibatkan lebih dari 1.800 peserta menjadi bukti keseriusan ini.
Berbagai upaya peningkatan literasi membuahkan hasil. Tahun 2025 menunjukkan indeks literasi Kota Semarang di angka 82,16 persen dan indeks numerasi di angka 77,74 persen.
Kompetisi Olah raga, Seni, dan Inovasi, Wadah Kreativitas Anak Muda
Semarang Cerdas tidak hanya soal pelajaran di kelas, tapi juga pengembangan bakat dan minat. Pemerintah kota menyelenggarakan berbagai kompetisi untuk anak muda.
Sepanjang 2025, telah terselenggara :
· 23 kompetisi olahraga, seni, dan inovasi
· 70 acara seni dan budaya
Beberapa event besar yang berhasil digelar antara lain :
· POPDA 2025 (Pekan Olahraga Pelajar Daerah)
· Tugu Muda Race
· Lomba Main Board Game Piala Wali Kota
Event-event ini menjadi ajang bagi generasi muda Semarang untuk menunjukkan bakat, berkompetisi secara sehat, dan mengasah kreativitas.
Target tahun 2026, pemerintah akan menyelenggarakan 15 kompetisi, antara lain :
· POPDA
· Promosi kompetisi tenis, basket, voli
· PORWAKOS
· Tugu Muda Race
· Semarang 10 K (yang tahun 2025 menyedot 3.000 peserta dengan 50 persen dari luar kota)
· Modifikasi otomotif (target 150 peserta)
· Event MMA
· Penyusunan Profil Pemuda
· Lomba Main Board Game
· Krenova (Kreativitas dan Inovasi Masyarakat) dengan target 107 peserta
· Lomba RISE Award (Research and Innovation for Semarang Excellence)
· Lomba SiNARAN (Sains Anak Semarang) dengan target 578 peserta
· Fun Games: Aku Cinta Tanah Airku, Lestari Indonesia
· Debat Mahasiswa
· Lomba Foto
· Family Storytelling Competition (Video)
· Pemilihan Duta Baca Umum dan Pelajar
· Lomba Pembuatan Video Sejarah Semarang
Di bidang seni budaya, pemerintah akan menyelenggarakan kompetisi dan fasilitasi penumbuhan ekosistem seni budaya, antara lain :
· Lomba Karawitan
· Lomba Macapat
· Lomba Tembang Dolanan
· Lomba Kolintang
· Lomba Teater
Di bidang pemuda, Pemkot juga memperkuat sistem pendukung (supporting system) bagi talenta muda, mulai dari olahraga, seni, budaya, hingga fasilitasi kompetisi internasional.
"Anak-anak Semarang itu kreatif dan berbakat. Tugas kami adalah menyediakan wadah agar mereka bisa berkembang dan bersinar. Jangan sampai bakat mereka terpendam karena tidak ada ajang," kata Agustina.
Sinergi dengan Pilar Pembangunan Lainnya
Program Semarang Cerdas tidak berdiri sendiri. Ia bersinergi erat dengan empat pilar lainnya.
Transformasi birokrasi berbasis merit yang bersih dari korupsi, gratifikasi, dan pungli yang dibuktikan dengan Penghargaan Manajemen Talenta dari BKN pada Januari 2026 menjadi fondasi bagi lahirnya kebijakan pendidikan yang tepat sasaran.
Aplikasi pelayanan publik terpadu mendukung kemudahan akses layanan pendidikan bagi warga.
Semarang Sehat dengan program penanganan stunting memastikan anak-anak tumbuh dengan gizi cukup, siap menyerap pelajaran.
Semarang Makmur dengan penguatan ekonomi kerakyatan membuat orang tua memiliki penghasilan untuk menyekolahkan anak-anaknya tercermin dari capaian pajak hiburan 106,38 persen dan pajak restoran 104,31 persen di tengah kebijakan efisiensi nasional.
Semarang Tangguh dengan infrastruktur yang membaik memudahkan akses anak-anak menuju sekolah, termasuk penanganan banjir yang mengentaskan genangan seluas 230,98 hektare.
Target 2026, Makin Banyak Warga Tersentuh Layanan Pendidikan
Memasuki tahun kedua, pemerintah kota tak berpuas diri. Berbagai target telah disiapkan untuk memperluas jangkauan layanan pendidikan :
· Perluasan program sekolah swasta gratis dari 129 menjadi 135 sekolah
· Perluasan program beasiswa untuk ribuan siswa miskin dan berprestasi
· Pembangunan infrastruktur pendidikan lanjutan
· Penyelenggaraan 15 kompetisi olahraga, seni, dan inovasi
· Fasilitasi kompetisi internasional bagi talenta muda Semarang
"Tahun depan kita kejar target yang lebih tinggi. Tidak boleh ada anak Semarang yang tidak sekolah karena alasan biaya. Semua harus mendapat akses pendidikan yang layak. Ini janji kami kepada warga Semarang," tegas Agustina.
Gotong Royong Mencerdaskan Semarang
Satu tahun kepemimpinan Agustina-Iswar membuktikan bahwa mencerdaskan anak bangsa tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah.
Diperlukan gotong royong semua pihak, sekolah yang peduli, guru yang dedikatif, orang tua yang mendukung, dan anak-anak yang semangat belajar.
Ribuan guru yang mengajar dengan dedikasi tinggi, puluhan ribu orang tua yang mendukung pendidikan anak-anaknya, serta puluhan ribu siswa yang semangat belajar dan berprestasi semua bergerak bersama mewujudkan Semarang Cerdas.
Satu tahun perjalanan Agustina-Iswar membuktikan bahwa ketika pemerintah hadir dan warga bergerak bersama, pendidikan benar-benar menjadi milik semua. Semarang cerdas bukan sekadar slogan.
SPP tertunggak dilunasi, ijazah dibagikan, beasiswa diberikan, ruang kelas diperbaiki, dan kompetisi digelar semua adalah wujud nyata bahwa pemerintah hadir untuk masa depan anak-anak Semarang.
Seperti disampaikan Wali Kota Agustina, "Pendidikan adalah fondasi dari segalanya. Dari generasi cerdas, kita bangun kesehatan. Dari generasi sehat, kita wujudkan kemakmuran.Dari kemakmuran, kita ciptakan kota yang tangguh. Semuanya berawal dari Semarang Cerdas," pungkasnya.
Sumber : Humas Pemkot Semarang

0 Komentar