Suka Duka Anak Rantau di Bulan Puasa: Antara Mandiri dan Rindu Masakan Ibu

0 Komentar

Bagi anak rantau, bulan Ramadhan bukan cuma soal menahan lapar dan dahaga, tapi juga melatih mental agar tidak "tumbang" saat melihat postingan grup keluarga. Menjalani puasa di tanah orang itu ibarat naik rollercoaster emosi; ada kalanya seru karena bebas eksplor takjil baru, ada kalanya syahdu bin pilu saat sahur sendirian.

Hmm.. mari kita bedah apa saja suka dan duka menjadi pejuang Ramadhan di perantauan.

1. Sahur: Perjuangan Melawan Gravitasi Kasur

Dukanya: Kalau dirumah ada yang namanya "alarm manusia" alias Ibu yang teriak dari dapur, di perantauan??.. Alarm HP sudah disetel tiap 5 menit, tapi tangan secara otomatis menekan tombol snooze sambil merem. Alhasil, seringkali sahur hanya dengan air putih dan sisa biskuit karena bangun 10 menit sebelum imsak.

Sukanya: Kamu jadi punya skill manajemen waktu yang luar biasa. Memasak mie instan atau memanaskan nasi sisa semalam bisa dilakukan dengan kecepatan detik!

2. Berburu Takjil: Ritual "War" yang seru

Sukanya: Ini adalah bagian yang seru karena menjelajah pasar kaget atau pinggir jalanan mencari gorengan, es pisang ijo, kolak dan per-nasi-an dilakukan secara random dan mandiri. Sebagai anak rantau, momen ini adalah ajang cuci mata sekaligus menghibur diri setelah seharian bekerja atau kuliah.

Dukanya: Dompet sering kali "kaget" melihat antusiasme kita. Niatnya beli kurma, pulangnya bawa gorengan 10 biji, es buah, dan martabak. Efek lapar mata itu nyata, kawan!

3. Buka Bersama (Bukber): Ajang Reuni atau Wacana Forever?

Sukanya: Bukber adalah penyelamat gizi. Biasanya momen ini jadi ajang makan enak sambil melepas rindu dengan sesama teman seperantauan. Setidaknya, ada wajah familiar yang diajak ngobrol saat saat adzan berkumandang.

Dukanya: Seringkali berakhir menjadi wacana abadi di grup WhatsApp. Belum lagi tantangan mengatur jadwal agar tidak bentrok antara bukber teman SMA, komunitas, dan kantor.

4. Homesick yang datang tiba-tiba 

Dukanya: Momen paling berat adalah saat sholat magrib selesai. Suasana kosan yang seringkali bikin pikiran melayang ke meja makan dirumah, teringat rendang atau sambal goreng kentang buatan ibu yang rasanya nggak bakal bisa ditiru oleh rumah makan Padang manapun.

Sukanya: Rasa rindu ini justru bikin kita lebih menghargai setiap detik waktu saat nanti mudik. Kita jadi lebih sering telepon orang tua, sekedar tanya "Tadi buka puasa pakai apa, Pak?" atau "Hari ini masak buat sahur apa, Bu?" yang sebenarnya adalah kode kalau kita kangen banget sama rumah tempat kita bertumbuh.

Eitts, jadi mellow deh..

Ini dia Tips Bertahan Hidup untuk Anak Rantau:

  • Stok "Makanan Darurat": Selalu sedia abon, tempe, sarden, atau kentang mustopa untuk jaga-jaga kalau bangun telat sahur. Masak nasi dari semalam lalu hangatkan di Magicom.
  • Cari masjid terdekat: Selain untuk beribadah, banyak masjid yang menyediakan takjil gratis. Lumayan untuk menghemat pengeluaran!
  • Jalin silaturahmi: Jangan mengurung diri dikamar, ngabuburit bareng teman kost atau teman seperantauan bisa mengurangi rasa sepi. Siapa tau ada ide untuk berjualan takjil bersama, hehee..
Menjadi anak rantau di bulan puasa memang penuh tantangan, tapi percayalah momen-momen inilah yang akan kita ceritakan dengan bangga saat sudah sukses nanti. Puasa mengajarkan kita sabar, merantau mengajarkan kita tangguh. Gabungan keduanya bikin kita jadi manusia zuper!

"Sejauh apapun kamu merantau, jangan biarkan imanmu ikut merantau meninggalkan hatimu!"

Oleh: Gen Z yang gak suka fomo-

0 Komentar