Dr. Murniati: Pendidikan Indonesia Perlu Lompatan, Bukan Sekadar Aktivitas

0 Komentar


MENJELANG HARDIKNAS: OPINI PENDIDIKAN

Oleh : Oleh: Dr. N.A.N. Murniati, M.Pd.

SEMARANG, (Harianterkini.id) - Setiap kali kalender mendekati 2 Mei, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kembali menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan Indonesia.

Spanduk bernuansa optimisme, upacara bendera, hingga pidato-pidato tentang kemajuan pendidikan kembali mewarnai ruang publik sebagai bentuk penghormatan terhadap gagasan Ki Hajar Dewantara.

Namun di balik seremonial tahunan tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang perlu dijawab secara jujur oleh para pemangku kepentingan pendidikan: apakah sistem pendidikan Indonesia benar-benar bergerak maju, atau justru sekadar “berlari di tempat” tanpa kemajuan yang signifikan?

Pertanyaan itu disampaikan oleh akademisi dan pemerhati pendidikan, Dr. N.A.N. Murniati, M.Pd., dalam tulisan reflektif menjelang Hardiknas. Ia mengibaratkan kondisi pendidikan saat ini seperti seseorang yang berlari di atas treadmill—mengeluarkan energi besar, namun tidak berpindah ke mana pun.

Menurutnya, dunia pendidikan saat ini diwarnai dengan aktivitas yang sangat padat.

Guru di berbagai daerah kerap dibebani tugas administratif yang kompleks, perubahan kurikulum yang cepat, serta adaptasi terhadap berbagai platform digital pembelajaran. Namun, di tengah semua itu, peningkatan substansial pada kemampuan literasi, numerasi, dan berpikir kritis peserta didik masih belum menunjukkan lonjakan signifikan.

“Kesibukan administratif sering kali menjauhkan pendidikan dari esensi utamanya, yaitu proses pembelajaran yang bermakna,” tulis Murniati.

Ia menilai, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah dominasi formalitas atas substansi.

Keberhasilan pendidikan kerap kali lebih banyak diukur dari kelengkapan dokumen dan laporan administratif ketimbang kualitas pemahaman siswa di ruang kelas.

Dalam situasi tersebut, peran guru pun mengalami pergeseran. Dari yang semestinya menjadi penggerak inspirasi di kelas, guru justru lebih banyak terserap dalam pekerjaan birokratis.

Akibatnya, ruang untuk interaksi pembelajaran yang mendalam menjadi semakin terbatas.

“Ketika perhatian guru lebih banyak tersita pada keteraturan dokumen dibanding keterlibatan emosional dan intelektual siswa di kelas, di situlah pendidikan mulai berjalan di tempat,” ujarnya.

Di sisi lain, perkembangan dunia global justru bergerak sangat cepat. Revolusi Industri 4.0 yang kini berlanjut dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mengubah lanskap kehidupan manusia secara drastis.

Cara bekerja, berkomunikasi, hingga menyelesaikan masalah tidak lagi sama seperti satu dekade sebelumnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut sistem pendidikan untuk melakukan lompatan paradigma.

Pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada penguasaan fakta, melainkan harus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan adaptasi.

Murniati mengingatkan kembali pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menekankan pentingnya keselarasan pendidikan dengan “kodrat alam” dan “kodrat zaman”.

Dalam konteks saat ini, pendidikan dituntut untuk menghasilkan generasi yang adaptif, kolaboratif, dan tangguh menghadapi perubahan.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang kemerdekaan yang lebih luas bagi guru dan siswa. Kemerdekaan tersebut bukan tanpa arah, melainkan otonomi untuk mengembangkan potensi sesuai karakteristik individu dan kebutuhan lokal.

“Pendidikan yang melompat adalah pendidikan yang berani merayakan keberagaman bakat, bukan menyeragamkannya,” tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti perlunya perubahan paradigma evaluasi pendidikan. Keberhasilan tidak lagi semata diukur dari nilai akademik, tetapi dari kemampuan lulusan dalam menghadapi ketidakpastian, berkontribusi di masyarakat, serta memiliki karakter yang kuat.

Dalam pandangannya, sekolah ideal harus menjadi laboratorium kehidupan yang memberi ruang bagi eksplorasi, inovasi, bahkan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

Sistem pendidikan yang terlalu kaku, menurutnya, justru berisiko menghambat perkembangan kreativitas.

“Sekolah harus menjadi ruang tumbuh, bukan sekadar ruang ujian,” tulisnya.

Menjelang Hardiknas tahun ini, Murniati menilai momentum tersebut seharusnya tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi titik awal perubahan yang lebih substantif dalam dunia pendidikan.

Ia menegaskan, transformasi pendidikan membutuhkan keberanian dari berbagai pihak, baik secara politik, pedagogis, maupun moral, untuk mengakui kekurangan yang ada dan melakukan perbaikan secara mendasar.

Dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia, berupa jutaan peserta didik dan ribuan guru yang terus berjuang di berbagai keterbatasan, ia berharap energi tersebut tidak terjebak dalam sistem yang stagnan.

“Jika hanya berlari di tempat, kita akan kehabisan energi tanpa pernah sampai tujuan. Namun jika berani melompat, kita membuka peluang untuk menyambut masa depan,” tutupnya.***(bgy)

0 Komentar