Momen Spesial di FOODSIM’2026, Indonesia Raya Dihadirkan Secara Instrumental

0 Komentar


BELGIA, (Adaharapan.net) - Lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya, berkumandang dalam pembukaan 14th Biennial International Conference on Food Simulation (FOODSIM’2026) yang digelar pada 15–17 April 2026 di KU Leuven – Campus Ghent, tepatnya di ruang L 226.

Momen tersebut menghadirkan suasana haru ketika Koordinator Konsorsium Erasmus Plus Indonesia, Jan FM Van Impe, membawakan lagu Indonesia Raya secara instrumental menggunakan piano.

Sembilan delegasi Indonesia yang hadir tampak berdiri dan turut bersenandung mengiringi alunan musik tersebut.

Tepuk tangan dari sekitar 80 peserta internasional pun mengiringi berakhirnya lagu kebangsaan Indonesia tersebut, menandai penghormatan terhadap delegasi Indonesia dalam forum ilmiah bergengsi bidang pangan itu.

Delegasi dari Universitas Semarang, Rohadi, mengungkapkan bahwa pada hari pertama seminar, sebanyak 25 makalah hasil riset dipresentasikan.

Salah satu di antaranya merupakan key note speech yang disampaikan oleh Emmanuel Bernuau dari Departemen Teknik Pangan Universitas Ankara, Turki.

Pada hari yang sama, tiga akademisi dari Indonesia turut mempresentasikan hasil penelitiannya, yakni Muhammad Yusuf dari Universitas Muhammadiyah Semarang, Rohadi dari Universitas Semarang, serta Enny Purwati Nurlaili dari Universitas 17 Agustus 1945 Semarang.

Rohadi menambahkan, terdapat perbedaan mencolok antara pelaksanaan seminar internasional di luar negeri dengan di Indonesia.

Menurutnya, pembukaan FOODSIM’2026 berlangsung sederhana dan hanya diisi sambutan singkat dari ketua penyelenggara.

“Tidak seperti seminar di Indonesia yang biasanya diisi berbagai sambutan dan pertunjukan budaya, pembukaan di sini hanya berupa welcome speech dari Prof. Jan, yang sekaligus membawakan European Anthem dan Indonesia Raya secara instrumentalia,” ujarnya.

Konferensi yang berlangsung hingga 17 April 2026 ini menghadirkan sekitar 60 makalah dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset terkemuka di Eropa, di antaranya dari Italia, Belanda, Irlandia, Yunani, Prancis, Spanyol, Inggris, hingga Indonesia.

Selain itu, Rohadi juga menyoroti perbedaan lain dalam penyelenggaraan seminar internasional tersebut, yakni prosiding yang sudah diterbitkan sejak awal acara.

Dengan demikian, seluruh peserta dapat langsung mengakses kumpulan artikel ilmiah selama konferensi berlangsung.

“Pada seminar ini, prosiding sudah tersedia sejak pembukaan, berbeda dengan di Indonesia yang biasanya baru terbit beberapa bulan setelah kegiatan selesai,” jelasnya.

FOODSIM’2026 menjadi ajang penting bagi para peneliti dan akademisi di bidang teknologi pangan untuk berbagi hasil riset sekaligus memperkuat kolaborasi internasional.***(bgy)

0 Komentar