Guru dan Tenaga Kependidikan Dinilai Rentan Burnout, Klinik Profesi Diusulkan Jadi Solusi

0 Komentar


Oleh: Dr. N.A.N. Murniati, MPd., Dosen Manajemen Pendidikan S2 UPGRIS bidang Keahlian Perencanaan dan Pengembangan SDM Pendidikan

SEMARANG, (Adaharapan.net) - Momentum bulan Mei yang identik dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional menjadi ruang refleksi bagi kalangan pendidik untuk meninjau kembali kualitas pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

Di tengah berbagai capaian transformasi pendidikan, perhatian terhadap kesejahteraan psikologis dan profesional pendidik dinilai masih belum menjadi prioritas utama.

Dosen Manajemen Pendidikan S2 UPGRIS, Dr. N.A.N. Murniati, MPd, menilai para Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) saat ini menghadapi tekanan kerja yang semakin kompleks.

Selain menjalankan tugas utama mengajar, guru juga dibebani tanggung jawab administratif, pengelolaan data digital, hingga tuntutan adaptasi terhadap berbagai sistem pendidikan berbasis teknologi.

“Burnout sistemik bukan lagi sekadar teori di jurnal penelitian, melainkan kenyataan yang terlihat di ruang-ruang guru yang mulai kehilangan keceriaannya,” ujarnya dalam refleksi pendidikan yang ditulis pada momentum bulan Mei.

Menurutnya, kondisi tersebut menghadirkan paradoks di tengah semangat peningkatan mutu pendidikan nasional.

Di satu sisi, pemerintah terus mendorong transformasi pendidikan melalui kebijakan, digitalisasi, dan evaluasi berbasis data.

Namun di sisi lain, aktor utama pendidikan justru mengalami kelelahan berkepanjangan akibat beban kerja yang terus meningkat.

Sebagai peneliti yang aktif mendampingi sekolah dan menganalisis data Rapor Pendidikan, Murniati mengaku menemukan banyak persoalan mendasar terkait ketahanan mental dan profesional guru maupun tenaga kependidikan.

Ia menilai, ketangguhan SDM pendidikan tidak bisa hanya dimaknai sebagai kemampuan bertahan menghadapi tekanan kerja.

“Ketangguhan sejati bukan sekadar mampu menahan beban hingga retak, tetapi kemampuan untuk pulih kembali,” katanya.

Atas dasar itu, ia menggagas pentingnya menghadirkan “Klinik Profesi” atau ruang pemulihan profesi di lingkungan sekolah.

Konsep tersebut diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan modern yang tidak hanya fokus pada capaian angka dan administrasi, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental serta kesejahteraan emosional tenaga pendidik.

Klinik Profesi, lanjutnya, dapat menjadi ruang konseling bagi guru yang mengalami burnout, tempat pemulihan bagi operator sekolah yang mengalami kelelahan teknis, hingga sarana refleksi diri untuk membangun kembali motivasi dan rasa syukur dalam bekerja.

Ia menilai, keberadaan ruang pemulihan profesi merupakan investasi strategis bagi pembangunan SDM nasional.

Menurutnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan infrastruktur, tetapi juga oleh kondisi psikologis para pelaku pendidikan.

“Negara perlu memastikan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya menuntut output angka, tetapi juga menyediakan perlindungan psikologis dan fisik bagi PTK,” tegasnya.

Murniati juga menekankan bahwa seluruh riset, pendampingan sekolah, dan transformasi kebijakan pendidikan seharusnya bermuara pada penghargaan terhadap manusia yang menjalankan sistem pendidikan itu sendiri.

Ia berharap, para pendidik dan tenaga kependidikan tidak lagi dipandang semata sebagai unit produksi capaian administratif, melainkan sebagai manusia yang berhak sehat, pulih, dan bertumbuh secara profesional demi masa depan bangsa.

“Negara harus hadir untuk merawat mereka yang selama ini merawat akal budi bangsa,” pungkasnya.***(bgy)

Penulis: Dr. N.A.N. Murniati, MPd
Dosen Manajemen Pendidikan S2 UPGRIS bidang Keahlian Perencanaan dan Pengembangan SDM Pendidikan

0 Komentar