Kepeloporan Farhan Ali dkk: Dipimpin Ketulusan, Digerakkan Kepedulian Melalui GEMILANG
KOTA BEKASI, (Adaharapan.net)- Farhan Ali lahir di Bekasi pada 15 Juni 2000. Ia anak kedua dari keluarga sederhana. Ibunya tidak bisa membaca dan menulis. Ayahnya hanya menamatkan SMP. Sejak kecil, Farhan tahu rasanya tumbuh tanpa ruang diskusi di rumah. Tidak ada buku yang dibacakan sebelum tidur. Tidak ada yang menemani mengerjakan PR. Pendidikan baginya terasa seperti jalan panjang yang harus ditempuh sendirian.
Namun keterbatasan itu tidak memadamkan harapan. Justru dari sanalah tekadnya menyala. Kini sebagai seorang guru, Farhan melihat potret masa kecilnya terulang pada banyak anak di sekitarnya. Anak-anak yang punya potensi besar, tapi tidak punya ruang aman untuk bertanya. Tidak punya wadah untuk berdiskusi. Tidak punya lingkungan yang membiasakan literasi, numerasi, dan akhlak. Mereka pulang sekolah lalu tenggelam dalam gawai, sementara orang tua bingung bagaimana mendampingi, dan para pemuda belum punya saluran untuk ikut peduli.
Farhan menolak percaya bahwa masa depan anak ditentukan oleh keterbatasan tempat mereka dilahirkan. Dari kegelisahan, harapan, dan tanggung jawab moral itulah lahir GEMILANG, Gerakan Mendidik dengan Ilmu dan Akhlak Cemerlang.
GEMILANG bukan sekadar bimbingan belajar. Ini adalah ruang yang dihadirkan Farhan bersama para relawan pemuda setiap hari libur sekolah. Di sana anak-anak belajar dengan bahagia lewat permainan yang mendidik. Mereka dibiasakan membaca, berhitung, dan berdiskusi tanpa tekanan. Mereka dilatih disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial lewat aktivitas bersama. Sementara itu, para orang tua diajak duduk di kelas parenting komunitas. Mereka belajar bahwa mendidik bukan tugas sekolah saja. Bahwa rumah harus jadi ruang belajar pertama. Bahwa komunikasi yang hangat dengan anak adalah fondasi dari semua nilai.
Gerakan yang dimulai dari skala kecil ini pelan-pelan mengubah banyak hal. Anak-anak yang dulu menghabiskan waktu libur dengan gawai, kini punya ruang belajar gratis yang aman dan bermakna. Kemampuan literasi dan numerasi mereka tumbuh karena belajar terasa seperti bermain. Orang tua yang awalnya pasif mulai paham perannya dan komunikasi di rumah menjadi lebih harmonis. Para pemuda yang menjadi relawan menemukan wadah untuk melatih kepemimpinan dan empati. Mereka tidak hanya mengajar, tapi ikut dibentuk menjadi agen perubahan.
Lebih dari itu, GEMILANG sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar kelas mingguan. Ia sedang menumbuhkan budaya belajar berbasis komunitas. Sebuah ekosistem di mana anak, orang tua, pemuda, dan masyarakat bergerak bersama. Sebuah bukti bahwa ketika satu orang berani memulai, dampaknya bisa meluas ke bangsa. Karena dari GEMILANG, lahir generasi yang literat, numerat, dan berakhlak. Lahir pula model gerakan pendidikan yang bisa direplikasi di berbagai daerah Indonesia.
Farhan dan kawan-kawan selalu percaya pada tiga hak dasar setiap anak. Hak untuk memiliki ruang belajar. Hak untuk memiliki ruang bermain yang mendidik. Dan hak untuk memiliki ruang pembentukan karakter. Keyakinan sederhana itu yang ia perjuangkan lewat GEMILANG setiap minggunya.
Kisah Farhan Ali qadalah pengingat bagi kita semua. Bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian kecil. Bahwa seorang anak dari ibu yang buta huruf bisa tumbuh menjadi orang yang mengenalkan huruf pada ratusan anak lain. Bahwa ketika kita memberi satu anak kesempatan untuk gemilang, kita sedang menyiapkan masa depan Indonesia yang lebih terang.

0 Komentar