Mahasiswa Ilkom USM Beri Edukasi Larangan Pelecehan Seksual ke Siswa SMA Institut Indonesia
SEMARANG, (Adaharapan.net) - Guna membangun kesadaran kolektif dan menciptakan ruang aman bagi generasi muda, sejumlah mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi, Universitas Semarang (USM) menggelar edukasi bertajuk “Jaga Teman Jaga Diri Stop Pelecehan Sekarang” di Aula SMA Institut Indonesia Semarang, belum lama ini.
Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 50 siswa kelas XI 3 dan XI 4 SMA Institut Indonesia.
Edukasi menghadirkan narasumber dari Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Polri, Bripda Pol. M. Falevi, serta mahasiswa Ilmu Komunikasi USM, Dinda Auralia P.A.
Ketua Panitia, Imelda Anggi Puspita mengatakan, kegiatan tersebut digelar sebagai respons terhadap tingginya kerentanan remaja menghadapi berbagai bentuk pelecehan seksual, baik di lingkungan sekolah, area publik, maupun platform digital.
“Berdasarkan data Komnas Perempuan, ribuan kasus kekerasan seksual menimpa remaja setiap tahunnya, di mana mayoritas pelaku justru merupakan orang terdekat atau kenalan melalui media sosial," ujarnya.
"Melalui pendekatan teman sebaya atau peer-to-peer approach, program ini hadir untuk membekali para siswa agar mampu mengidentifikasi bahaya dini, menjaga otonomi tubuh, serta menumbuhkan keberanian untuk bertindak,” imbuhnya.
Menurutnya, agar pesan edukasi dapat diterima secara efektif oleh Generasi Z, kegiatan dikemas dengan konsep santai, interaktif, dan komunikatif.
Acara juga didukung dengan penayangan video pendek, sesi ice breaking, serta diskusi tanya jawab yang berlangsung dinamis.
“Melalui kegiatan nyata ini, diharapkan SMA Institut Indonesia dapat terus memperkokoh posisinya sebagai zona aman atau safe zone dan garda terdepan dalam mencetak generasi muda yang cerdas, sadar hukum, serta memiliki budaya saling menjaga satu sama lain,” ungkap Imelda.
Dalam paparannya, Dinda Auralia P.A menyampaikan materi mengenai pemahaman dasar batasan perilaku wajar, pengenalan bentuk pelecehan dalam kehidupan sehari-hari, hingga pentingnya menjaga otonomi diri.
Selain itu, para siswa juga diajak menjadi saksi aktif atau bystander intervention yang berani bersuara dan peduli ketika melihat rekan mereka mengalami perlakuan tidak nyaman.
Sementara itu, Bripda Pol. M. Falevi memberikan materi mengenai aplikasi Libas (Polisi Hebat Semarang), mulai dari tata cara penggunaan hingga mekanisme aplikasi dalam merespons aduan masyarakat.
Melalui pengenalan sistem digital tersebut, para siswa diedukasi agar memiliki kesiapan teknis dan mental untuk berani melapor apabila menjadi korban, sekaligus berani melindungi sesama jika menemukan tindakan pelecehan di lingkungan sekitar.
“Kami ingin adik-adik di SMA Institut Indonesia tidak merasa bingung atau takut lagi ketika menghadapi situasi darurat. Melalui materi cara kerja dan penggunaan aplikasi Libas ini, kami membuka ruang pelaporan yang cepat dan responsif," Bripda Pol. M. Falevi.
"Prinsipnya berani melapor dan berani melindungi. Teknologi ini hadir untuk memastikan kalian semua memiliki perlindungan instan di mana pun berada,” jelasnya.
Dosen Mata Kuliah Komunikasi Jender dan Minoritas USM, Dr. Yuliyanto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si berharap kombinasi materi edukasi karakter dan perlindungan berbasis aplikasi tersebut mampu memberikan perlindungan menyeluruh bagi siswa.
“Kegiatan sosialisasi ini merupakan bentuk implementasi nyata dari teori komunikasi jender yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah," kata Yuliyanto.
"Kami berharap gerakan ini tidak berhenti di sini, melainkan mampu menumbuhkan kepekaan sosial di kalangan remaja untuk saling melindungi, memutus rantai pelecehan, dan menciptakan lingkungan belajar yang setara serta bebas dari rasa takut,” ungkapnya.***(bgy)

0 Komentar