Ada Bentangan Tangan Menunggu Beradu

0 Komentar


Di kota yang tak pernah benar-benar tidur ini, detak jam terasa lebih lambat bagi dua insan yang dipisahkan oleh trotoar basah sisa hujan sore tadi. Adrian berdiri di sudut kafe lama, sementara Liana terpaku di seberang jalan, tepat dibawah lampu merkuri yang berkedip malas.

Sudah tiga tahun sejak mereka memutuskan untuk berjalan ke arah yang berlawanan. Tidak ada pertengkaran hebat, hanya keheningan yang perlahan-lahan menelan percakapan mereka hingga habis. Namun malam ini, semesta seolah bosan bermain petak umpet. 

Lampu lalu lintas berubah warna merah, menghentikan aliran kendaraan yang memisahkan mereka. Adrian menarik napas panjang. Udara dingin merasuk ke balik jaketnya, tapi rasa sesak di dadanya bukan karena suhu udara. Di seberang sana, Liana tampak masih sama -dengan jam tangan ungu yang dulu ia hadiahkan saat masih berseragam putih abu-abu.

Liana melihatnya, namun tak berpaling. Ada keraguan yang menggantung di udara, dan lebih bising dari suara kendaraan jutaan manusia disana.

Perlahan, Adrian melangkah maju ke zona abu-abu zebra cross. Ia tidak berlari. Ia hanya berjalan, menata setiap detik jantungnya agar tidak meledak sebelum sampai. Liana pun seolah ada panggilan hati yang menyuruhnya mengikuti cara Adrian. Pikiran yang sempat ragu dan ego, kini bergerak mengikuti ritme kaki, berharap sampai pada kesimpulan yang diinginkan. Setiap langkah mengecilkan jarak yang selama ini mereka pelihara dengan ego dan kenangan pahit.

Di tengah jalan, mereka berhenti, tepat saat lampu merah menghentikan semua kendaraan yang berlalu-lalang. Dan di bawah bentangan kabel listrik yang bersilangan, mereka saling berhadapan.

"Li, jam itu, kamu masih menyimpannya?" Suara Adrian parau, nyaris tenggelam oleh deru mesin motor yang melintas di kejauhan. Seketika Adrian tersenyum lebar dan menatap mata Liana yang lembut. 

Liana tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Adrian jatuh hati berkali-kali saat masih remaja. "Beberapa hal terlalu berharga untuk dibuang, Ri." Jawab Liana yang dulu biasa memanggilnya dengan singkatan Rian.

Seketika kenangan mereka teringat dengan jelas di pikiran Adrian. Kembali mencoba menjadi seperti yang Liana kenal, sahabat sekaligus kekasihnya. "Li..?" 

"Iya Ri?" Dengan berdebar-debar Liana menunggu lanjutan ucapan Adrian. Mata Adrian seperti serius menatap matanya namun juga menunjukkan lirikan lain.

"Bisa kita bergeser ke pinggir Li? Ini masih ditengah jalan.. hehe" ucap Adrian dengan nada sedikit meledek. Liana tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. "Mulai deh,..."

Adrian perlahan menjulurkan tangannya. Bukan sebuah ajakan biasa, tetapi harapan akan berlari bersama dengan orang yang tulus mencintai. Lengannya menjulurkan ke hadapan Liana, ia menatap sinyal tangan itu. Baginya, itu bukan sekedar ajakan, tetapi sebuah pelabuhan yang selama ini ia cari di kota-kota lain yang tak mungkin ada. Dengan satu helaan napas lega, Liana menyentuh jari jemari Adrian, mempererat ikatan yang selama ini terputus oleh ego. Mereka berlari ke sudut kota, mencari tempat yang tak dibutuhkan orang banyak. 

Liana melangkah masuk ke dalam dekapan hangat bentangan tangan Adrian yang penuh semangat. Dua sahabat sekaligus cinta pertama kini kembali hadir tanpa terduga. Saat itulah dunia di sekitar mereka seolah melenyap.

"Aku lelah menunggu sendirian, Ri" bisik Liana di dada Adrian.

"Sekarang tidak lagi, maafkan aku yang dulu, kini aku akan selalu hadir seperti saat pertama kali kau mengenalku.." jawab Adrian sambil mempererat pelukannya. "Bentangan ini sudah menemukan kesimpulannya."

Di sudut kota yang dingin, dua insan itu membuktikan bahwa sejauh apapun tangan terbentang memisahkan, jika cinta adalah porosnya, mereka akan selalu menemukan cara untuk kembali beradu.


*Oleh : ZTN

*Terinspirasi dari percintaan teman SMA 

0 Komentar