Semesta Tersenyum

0 Komentar

Cantik juga ya, Wanita dan Alam. Ia bergerak kesana kemari pun sudah indah. Apalagi sambil memuji nama-Nya. Kata seorang pujangga yang tersesat disudut bumi. Kertas dan pena tidak lagi berfungsi bagi bait-bait syairnya, melainkan hati yang berbisik. 

Aku terdiam di panggung besar dunia. Semua perayaan manusia ada berbagai macam warna, lalu aku memilih hijau tua. Aku memetik semua yang hijau untuk waktuku yang menua. 

Tanpa kurasa, entah apa yang ternodai, hatiku sakit dan tersesak. Seketika pilu menyekap ego yang terinjak. Lalu bicaralah sungai yang ikut larut dalam kesunyianku. 

Aku melihat ke dahan yang bergerak melambat, seraya menggoda aku agar tetap menatap, walau terus meratap. Kepada angin, aku berbicara dengan-Nya. 

Kenapa mereka senang melihatku menjadi kecil dan lemah? Dibalik pohon lebat, Semesta ikut tersenyum melihatku tak berdaya dihadapannya. Aku makhluk Sang pemimpin, tapi aku selalu mengadah keatas untuk melihat Alam, siapa yang harusnya dikerdilkan? 

Wanita yang lama tidak ku perhatikan itu mendekatiku, dengan langkah malu dan dengan muka basah, ia berkata "jangan berenang di air yang dangkal". Aku tertawa kecil. Akhirnya aku menemukan jawaban. Yah, baiknya aku menyelam pada lautan kata yang penuh makna saja. -zah

0 Komentar