Tasyakuran HUT ke-81 RI, Warga Purwogondo II Semakin Guyub, Meriah dengan Nuansa Merah Putih
SEMARANG, (Adaharapan.net) - Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa hangat di lingkungan Jalan Purwogondo II, RT 02/RW 05, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.
Puluhan warga yang terdiri atas bapak-bapak, ibu-ibu, remaja hingga anak-anak berkumpul dalam acara tasyakuran dan doa bersama, Selasa (18/8/2026) malam.
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi warga untuk tidak hanya mensyukuri kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia, tetapi juga mempererat silaturahmi dan menjaga kerukunan antarwarga.
Acara berlangsung meriah dengan balutan suasana khas peringatan kemerdekaan. Tenda bernuansa merah putih, berbagai perlengkapan kegiatan, hingga rangkaian hiburan dan pembagian hadiah lomba membuat suasana kampung semakin semarak.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua RW 05 Kelurahan Dadapsari, Hendro, Ketua RT 02/RW 05 Tomi Setiawan, sesepuh kampung Selamet Widodo, serta warga setempat.
Acara dipandu Rachman Polalo, warga Jalan Purwogondo II yang bertindak sebagai pembawa acara. Kegiatan diawali dengan doa pembuka dan pembacaan Al-Fatihah yang dipimpin Rachman Polalo.
Selanjutnya, warga bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan.
Suasana kemudian dibuat khidmat melalui prosesi mengheningkan cipta yang dipimpin Ibu Wahyuni untuk mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan yang telah berjuang merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Bukan hanya itu saja, pada kesempatan acara tasyakuran dalam rangka HUT ke 81 dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2026 juga dilaksanakan doa kemerdekaan ucapbersama
Ketua RW Tekankan Pentingnya Guyub dan Keterbukaan
Dalam sambutannya, Ketua RW 05 Kelurahan Dadapsari, Hendro, mengapresiasi kekompakan warga RT 02 yang dinilainya semakin terlihat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Hendro berpesan agar semangat kebersamaan, keguyuban dan kerukunan tidak hanya muncul ketika ada kegiatan peringatan hari besar, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
"Yang paling penting adalah kekompakan, kebersamaan dan keguyuban warga harus terus kita jaga. Jangan hanya berkumpul ketika ada acara seperti malam tasyakuran atau peringatan kemerdekaan," ujar Hendro saat memberikan sambutan, Selasa, 18 Agustus 2026.
"Dalam kegiatan kampung, termasuk kerja bakti, saya berharap warga bisa bersama-sama turun dan ikut berpartisipasi," imbuhnya.
Menurutnya, kerja bakti bukan sekadar membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan mempererat hubungan antarwarga.
"Kalau kita sering bertemu, saling menyapa dan bekerja bersama, insyaallah rasa persaudaraan akan semakin kuat. Kampung yang baik bukan hanya kampung yang bersih, tetapi kampung yang warganya guyub, rukun dan saling peduli," katanya.
Hendro juga menyampaikan pesan dari pihak kelurahan mengenai penggunaan warna merah putih dalam pengecatan jalan lingkungan. Ia mengingatkan warga agar tidak mengecat permukaan jalan dengan warna merah putih secara sembarangan karena warna tersebut merupakan simbol bendera kebangsaan Indonesia.
"Ini juga menjadi perhatian dari kelurahan. Kalau melakukan pengecatan jalan, jangan menggunakan warna merah putih sebagai warna jalan. Merah putih adalah simbol bendera kebangsaan kita, sehingga penggunaannya harus tetap kita hormati," jelasnya.
Di sisi lain, Hendro mengapresiasi pelaksanaan tasyakuran RT 02 yang menurutnya tahun ini terlihat lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia menilai penggunaan tenda bernuansa merah putih, backdrop atau MMT, serta berbagai perlengkapan kegiatan membuat suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI semakin semarak.
"Kalau saya lihat, acara tasyakuran RT 02 tahun ini lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sekarang sudah ada tenda bernuansa merah putih, MMT yang bagus dan perlengkapan kegiatan yang semakin baik. Ini tentu menjadi kebanggaan kita bersama," ungkapnya.
Menurut Hendro, peningkatan kegiatan lingkungan tersebut salah satunya terbantu oleh adanya Bantuan Operasional (BOP) sebesar Rp25 juta per RT per tahun yang diberikan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang.
Ia berharap bantuan tersebut benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga.
"Saya juga berharap BOP Rp25 juta ini bisa dimanfaatkan dengan baik dan manfaatnya bisa dirasakan seluruh warga. Karena ini merupakan uang untuk kepentingan masyarakat, maka pengelolaannya harus terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan," tegasnya.
Hendro meminta seluruh ketua RT di lingkungan RW 05 untuk mengedepankan keterbukaan dalam pengelolaan anggaran operasional tersebut.
"Jangan hanya RT 02, tetapi seluruh RT di lingkungan RW 05 saya harapkan sama-sama terbuka dalam pengelolaan anggaran. Apa yang direncanakan, apa yang dilaksanakan, dan bagaimana manfaatnya untuk warga harus bisa dikomunikasikan dengan baik," katanya.
Ia juga berharap semangat berkumpul tidak berhenti pada kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan.
"Terima kasih atas undangannya. Saya berharap bukan hanya ketika ada acara seperti ini warga mau berkumpul. Ketika ada rapat atau pertemuan warga juga harus kompak hadir. Bahkan bulan depan saya akan datang dan melihat langsung pertemuan warga RT 02. Saya ingin memastikan komunikasi dan kebersamaan antarwarga tetap berjalan," ujarnya.
Hendro pun menyampaikan apresiasi kepada Ketua RT 02 Tomi Setiawan yang telah mengundangnya dalam kegiatan tersebut.
"Semoga warga RT 02 semakin guyub, semakin rukun dan semakin kompak. Mari kita jaga lingkungan kita bersama-sama," tuturnya.
Ketua RT: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Kebersamaan
Sementara itu, Ketua RT 02/RW 05, Tomi Setiawan, menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga yang telah meluangkan waktu untuk hadir dalam kegiatan tasyakuran.
Menurut Tomi, kekompakan warga merupakan modal penting dalam menjaga kehidupan bermasyarakat di lingkungan RT 02.
"Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga RT 02 yang selama ini selalu kompak menjaga kampung tetap guyub dan rukun. Kehadiran bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak dan para remaja malam ini menjadi bukti bahwa kebersamaan itu masih kuat," ujar Tomi.
Ia menilai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan kegiatan seremonial.
"Memaknai kemerdekaan bukan hanya dengan memasang bendera atau mengadakan lomba. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif, menjaga kerukunan, membantu tetangga dan menciptakan lingkungan yang aman serta nyaman bagi semua," katanya.
Tomi juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Semarang melalui BOP sebesar Rp25 juta per RT per tahun.
"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, yang telah memberikan bantuan operasional Rp25 juta per RT setiap tahun. Bantuan tersebut sangat membantu kegiatan di lingkungan kami, termasuk mendukung berbagai kegiatan warga dan membuat lingkungan kampung menjadi lebih meriah serta tertata," ungkapnya.
Menurut Tomi, keberadaan BOP juga menjadi kesempatan bagi warga untuk memperkuat kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
"Harapan kami tentu bantuan ini dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Yang paling penting adalah bagaimana anggaran tersebut digunakan sesuai kebutuhan warga, dikelola dengan baik dan memberikan manfaat yang nyata untuk lingkungan," katanya.
Tomi menjelaskan, pelaksanaan tasyakuran pada 18 Agustus 2026 sengaja dilakukan sehari setelah puncak peringatan HUT Kemerdekaan agar tidak berbenturan dengan agenda warga di lingkungan RT lain.
"Kenapa kita laksanakan tanggal 18 Agustus, karena di RT sebelah juga sudah melaksanakan tasyakuran. Kami tidak ingin kegiatan bersamaan dan jalan ditutup semua. Jadi kami atur waktunya supaya seluruh kegiatan warga bisa berjalan dengan baik dan tetap saling menghormati," jelasnya.
Ia berharap tradisi tasyakuran dan kebersamaan tersebut dapat terus dipertahankan pada tahun-tahun mendatang.
"Terima kasih sekali lagi kepada seluruh warga yang sudah hadir. Mari kita jaga RT 02 agar selalu guyub, rukun, saling membantu dan saling menghormati. Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka, merdeka, merdeka!" serunya.
Sesepuh Kampung Harap Kerukunan Turun kepada Anak Cucu
Suasana haru sekaligus hangat terasa ketika sesepuh kampung, Selamet Widodo, menyampaikan sambutan.
Widodo mengaku terharu dan bangga melihat warga RT 02 masih mempertahankan tradisi berkumpul dan menggelar tasyakuran dalam memperingati kemerdekaan.
Menurutnya, jumlah warga yang hadir bukan menjadi ukuran utama keberhasilan sebuah kegiatan. Hal yang lebih penting adalah adanya niat untuk bersyukur dan menjaga hubungan baik antarwarga.
"Saya merasa terharu dan bangga melihat kekompakan warga RT 02. Walaupun yang hadir mungkin tidak lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi saya melihat semangat kebersamaan itu tetap ada. Acara yang sederhana seperti ini justru bisa menjadi sangat meriah dan berkesan karena dilaksanakan dengan hati," ujar Widodo.
Ia berharap semangat gotong royong yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tidak hilang di tengah perubahan zaman.
"Jangan sampai kebersamaan ini hanya menjadi kenangan. Kita harus menjaga keguyuban, kerukunan dan gotong royong ini supaya bisa diwariskan kepada anak-anak dan cucu kita. Mereka harus melihat bahwa orang tua dan para sesepuhnya memberikan contoh bagaimana hidup bermasyarakat dengan saling menghormati dan saling membantu," tuturnya.
Widodo menambahkan, kemerdekaan harus dimaknai sebagai kesempatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
"Para pahlawan sudah berjuang dengan pengorbanan yang luar biasa untuk memberikan kemerdekaan kepada kita. Tugas kita sekarang adalah menjaga persatuan dan mengisi kemerdekaan dengan kebaikan. Kalau di tingkat kampung saja kita bisa rukun, saling membantu dan tidak mudah terpecah, itu juga merupakan bentuk kita menghargai perjuangan para pahlawan," katanya.
Potong Tumpeng hingga Pembagian Doorprize
Rangkaian tasyakuran kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas kemerdekaan yang telah dinikmati bangsa Indonesia selama 81 tahun.
Pemotongan tumpeng dilakukan Ketua RT 02 Tomi Setiawan. Potongan tumpeng kemudian diserahkan kepada sesepuh kampung Selamet Widodo dan Ketua RW 05 Hendro sebagai simbol penghormatan kepada para sesepuh serta pengikat kebersamaan antara warga, RT dan RW.
Setelah prosesi tumpeng, suasana acara semakin cair. Canda tawa warga pecah ketika pembawa acara mulai membagikan hadiah berbagai perlombaan 17 Agustus yang telah digelar sejak 1 Agustus 2026.
Beragam kategori lomba diikuti warga, mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu. Pembagian hadiah menjadi salah satu momen yang paling ditunggu karena mempertemukan kembali peserta lomba dalam suasana santai dan penuh kegembiraan.
Kemeriahan kemudian berlanjut dengan pembagian puluhan doorprize. Warga tampak antusias mengikuti pengundian hingga suasana acara semakin semarak.
Selain menjadi ajang hiburan, rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang interaksi lintas generasi. Anak-anak, remaja, orang tua hingga para sesepuh dapat berkumpul dalam satu suasana yang sama.
BOP Dimanfaatkan untuk Memperindah Lingkungan
Warga Jalan Purwogondo II juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Semarang melalui BOP Rp25 juta per RT per tahun.
Dukungan tersebut antara lain dirasakan warga dalam penataan lingkungan menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Di lingkungan RT 02/RW 05, warga kini memiliki tiang-tiang bendera dan penyangga yang tertata sehingga kawasan Jalan Purwogondo II terlihat lebih serasi dengan nuansa merah putih selama bulan kemerdekaan.
Bagi warga, keberadaan fasilitas tersebut tidak sekadar mempercantik lingkungan. Tiang bendera juga menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan hadir hingga ke tingkat lingkungan terkecil di tengah masyarakat.
Warga berharap program BOP tersebut dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak kegiatan lingkungan yang dapat dilaksanakan secara bersama-sama.
"Terima kasih kepada Ibu Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada masyarakat melalui BOP Rp25 juta per RT. Semoga program ini bisa terus berjalan pada tahun-tahun berikutnya dan manfaatnya semakin dirasakan warga," ungkap salah seorang warga.
Bagi masyarakat Jalan Purwogondo II, tasyakuran HUT ke-81 Kemerdekaan RI bukan sekadar agenda tahunan. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merawat ingatan terhadap perjuangan para pahlawan sekaligus memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Di tengah kesibukan kehidupan perkotaan, tradisi berkumpul, berdoa bersama, makan bersama dan saling berbagi menjadi cara sederhana warga menjaga nilai gotong royong.
Malam itu, kemerdekaan dirayakan bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kebersamaan. Dari sebuah lingkungan kecil di Jalan Purwogondo II, semangat merah putih terus dirawat melalui kerukunan, kepedulian dan keguyuban warga.
Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah. Warga kembali berbincang santai, menikmati hidangan bersama, sembari membawa pulang semangat yang sama: menjaga kampung tetap guyub, rukun dan penuh kekeluargaan.
Merdeka bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menjaga persatuan dan membangun kehidupan yang lebih baik bersama-sama.***

0 Komentar