Wali Kota Semarang Terima Kehormatan Tapak Suci, Muktamar XVI Tekankan Pembentukan Karakter Generasi Muda
SEMARANG, (Adaharapan.net) - Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu (8/8), tidak sekadar menjadi lokasi pembukaan Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Ribuan peserta yang hadir juga diajak melihat pencak silat dari perspektif yang lebih luas, yakni sebagai sarana membentuk karakter dan kepribadian generasi muda.
Momentum tersebut semakin istimewa bagi Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Ia menerima penganugerahan gelar Anggota Kehormatan Tapak Suci Putera Muhammadiyah dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci, Muhammad Afnan Hadikusumo.
Penganugerahan itu menjadi bagian dari rangkaian pembukaan Muktamar XVI Tapak Suci yang mempertemukan para pendekar, atlet, pengurus, serta tokoh dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain Agustina, penghargaan serupa juga diberikan kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Sementara gelar Pendekar Kehormatan dianugerahkan kepada sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, anggota DPR RI Muhammad Syauqi, Juliyatmono, dan Aziz Subekti.
Penghargaan juga diberikan kepada Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Dedi Irawan serta sejumlah pimpinan perguruan tinggi, seperti Rektor UMY Achmad Nurmandi, Rektor UMS Harun Joko Prayitno, Rektor UNIMUS Masrukhi, dan Rektor UMP Jebul Suroso.
Bagi Agustina, gelar kehormatan tersebut bukan sekadar bentuk penghargaan. Ia memandangnya sebagai amanah sekaligus pengikat silaturahmi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dalam membangun generasi muda.
“Penghargaan ini sebagai pengingat bahwa pemerintah perlu terus hadir dan berkolaborasi bersama organisasi kemasyarakatan dalam menyiapkan generasi muda yang berkarakter,” kata Agustina.
Menurutnya, pencak silat memiliki keistimewaan karena tidak hanya mengajarkan kemampuan fisik.
Di balik gerakan dan teknik bela diri, terdapat nilai kedisiplinan, keberanian, tanggung jawab, serta kemampuan mengendalikan diri.
“Pencak silat mengajarkan pentingnya mengendalikan diri sendiri. Pengembangan pencak silat tidak semestinya hanya diukur dari medali, melainkan dari pembentukan manusia yang berkarakter,” tegasnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat membuka secara resmi Muktamar XVI Tapak Suci.
Pembukaan muktamar ditandai dengan penancapan senjata tradisional Segu. Prosesi tersebut sekaligus menjadi simbol dimulainya forum organisasi yang akan mengevaluasi perjalanan Tapak Suci sekaligus merumuskan arah pengembangan organisasi ke depan.
Haedar menekankan bahwa olahraga bela diri tidak boleh berhenti pada pembentukan kekuatan fisik. Kemampuan jasmani harus berjalan beriringan dengan kekuatan spiritual dan akhlak.
“Fisik yang prima harus berjalan berdampingan dengan kekuatan spiritual. Perpaduan sempurna ini melahirkan generasi berjiwa kesatria yang berani membela kebenaran dan melindungi masyarakat,” ujarnya.
Muktamar XVI Tapak Suci sendiri dikemas dengan nuansa yang memadukan nilai keagamaan, kebangsaan, olahraga, dan budaya.
Selain pembacaan ikrar serta laporan organisasi, peserta dan masyarakat juga disuguhi atraksi Pencak Budaya Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
Bagi Agustina, perpaduan tersebut menjadi gambaran bahwa pencak silat memiliki ruang yang luas untuk berkembang, bukan hanya sebagai olahraga prestasi, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan budaya dan pendidikan karakter.
Ia berharap Muktamar XVI mampu menghasilkan langkah konkret dalam memperkuat pembinaan atlet, regenerasi pendekar, hingga peningkatan kualitas kompetisi pencak silat.
Menurut Agustina, pemerintah daerah memiliki peran untuk memastikan anak-anak muda memperoleh ruang yang cukup untuk menyalurkan energi dan potensinya melalui kegiatan positif.
“Tugas pemerintah bukan hanya membangun fasilitas. Pemerintah juga harus memastikan anak-anak muda punya ruang untuk berlatih, berkompetisi, berkarya, dan menemukan lingkungan yang membentuk mereka menjadi lebih baik,” jelasnya.
Di sisi lain, kehadiran peserta muktamar dari berbagai daerah di Indonesia turut memberikan dampak bagi Kota Semarang.
Mobilitas peserta dan rangkaian kegiatan muktamar ikut menghidupkan aktivitas masyarakat, khususnya di sekitar lokasi acara.
Agustina berharap momentum tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Semarang sebagai kota yang terbuka terhadap berbagai kegiatan berskala nasional.
“Kami ingin Kota Semarang bukan hanya dikenal sebagai tempat berlangsungnya sebuah acara, tetapi sebagai kota yang mampu menjadi ruang bertemunya gagasan, prestasi, budaya, dan masyarakat,” pungkasnya.***

0 Komentar