Drama Malin Kundang Jadi Ruang Belajar Holistik Murid PKBM Vokasi Piwulang Becik Semarang
SEMARANG, (Adaharapan.net) - Panggung drama tidak sekadar menjadi tempat bagi para murid untuk menunjukkan kemampuan seni. Bagi murid PKBM Vokasi Piwulang Becik Semarang, pementasan drama Malin Kundang menjadi bagian dari proses pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sekaligus nilai kehidupan.
Pementasan tersebut digelar belum lama ini dan menjadi salah satu bentuk pembelajaran berbasis projek yang mengintegrasikan sejumlah mata pelajaran.
Para murid tidak hanya belajar memahami materi secara teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses persiapan hingga pementasan di hadapan penonton.
Tutor sekaligus sutradara pementasan, Muhammad Ferdiyan, mengatakan kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada murid untuk mempraktikkan materi yang telah dipelajari dalam bentuk aktivitas nyata.
“Melalui pementasan ini, mereka belajar untuk mengimplementasikan konsep pembelajaran Seni Budaya, Bahasa Indonesia, dan beberapa lainnya yang secara komprehensif kami ajarkan melalui aktivitas pembelajaran seperti ini,” ujar Ferdiyan.
Menurutnya, pembelajaran berbasis projek memberikan pengalaman yang lebih utuh kepada murid. Mereka tidak hanya menerima teori dari tutor, tetapi juga menjalani berbagai tahapan, mulai dari memahami cerita, mempersiapkan karakter, berlatih dialog, membangun kerja sama, hingga tampil di depan masyarakat.
Proses tersebut, kata dia, menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman belajar yang tidak berhenti pada penguasaan materi.
Pendekatan itu juga sejalan dengan konsep Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran yang meaningful atau bermakna, mindful atau berkesadaran, serta joyful atau menggembirakan.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran tidak semata-mata dipandang sebagai proses transfer pengetahuan.
Lebih dari itu, pembelajaran juga menjadi sarana untuk mentransfer nilai dan pengalaman yang dapat direfleksikan serta diinternalisasi murid dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Tidak Hanya di Dalam Kelas
PKBM Vokasi Piwulang Becik Semarang menerapkan konsep pembelajaran holistik melalui berbagai aktivitas belajar di kampus yang berada di Jalan Gombel Lama Nomor 44, Kota Semarang.
Proses pembelajaran juga didukung dengan sistem digital sehingga murid memiliki fleksibilitas dalam mengakses kegiatan belajar.
Pola tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan pendidikan yang adaptif terhadap kebutuhan dan karakter peserta didik.
Dalam pementasan Malin Kundang, pembelajaran kemudian dikemas melalui pengalaman langsung.
Murid belajar seni peran sekaligus mengasah kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengelola rasa percaya diri, serta memahami pesan moral yang terdapat dalam cerita.
Pertama Kali Tampil di Atas Panggung
Bagi sejumlah murid, pementasan Malin Kundang menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Salah satunya dirasakan Alifan Satria Akbar yang mengaku baru pertama kali tampil dalam sebuah pementasan drama.
Ia mengaku merasakan berbagai emosi ketika harus tampil di atas panggung. Perasaan senang dan bangga bercampur dengan rasa gugup karena harus berhadapan langsung dengan penonton.
“Senang dan bangga, tapi juga campur deg-degan. Semuanya jadi satu dan kita dapat pelajaran bersama,” kata Alifan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan kesetaraan yang fleksibel dan adaptif. Melalui pembelajaran berbasis projek, murid memiliki kesempatan untuk belajar dengan cara yang lebih beragam sesuai karakter, kebutuhan, serta kemampuan masing-masing.
Dinilai Relevan dengan Konsep Deep Learning
Praktisi pendidikan sekaligus CEO Karir Anak Indonesia, Faizal Kamal, menilai model pembelajaran melalui projek seperti pementasan drama relevan dengan pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam dalam pendidikan.
Menurutnya, murid pada era saat ini tidak cukup hanya menghafalkan materi pembelajaran. Mereka juga perlu mendapatkan ruang untuk mengimplementasikan pengetahuan dan nilai yang diperoleh ke dalam kehidupan nyata.
“Ruang belajar saat ini sudah tidak terbatas di dalam kelas saja, tetapi juga di ruang sosial yang nyata dan membutuhkan eksistensi penuh anak sebagai individu sebagai entitas sosial,” ujar Faizal.
Ia menilai model pembelajaran yang sebelumnya kerap dianggap eksperimental kini semakin relevan diterapkan kepada generasi Alfa.
Generasi tersebut tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan lingkungan digital sehingga membutuhkan pola pembelajaran yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata.
Pembelajaran berbasis pengalaman, menurutnya, dapat menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan generasi muda agar tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan sosial.
Lurah Tinjomoyo Apresiasi Pesan Moral
Pementasan Malin Kundang juga mendapat apresiasi dari Lurah Tinjomoyo, Suratmin. Ia menilai cerita yang dibawakan para murid memiliki pesan yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Salah satu pesan yang menurutnya penting untuk direnungkan adalah mengenai hubungan antara anak dan orang tua.
Suratmin menyoroti fenomena sebagian orang tua yang telah memasuki usia lanjut dan harus tinggal di panti karena anak-anak mereka tidak dapat memberikan pendampingan secara langsung akibat kesibukan.
“Saya banyak menemukan saat ini orang tua di akhir hayatnya kemudian dititipkan di panti hanya karena kesibukan anaknya,” ujar Suratmin.
Karena itu, ia berharap pesan moral dalam cerita Malin Kundang dapat menjadi pengingat bagi generasi muda agar tetap menghormati, menyayangi, dan memberikan perhatian kepada orang tua.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah cerita akan menjadi lebih bermakna ketika dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Menjadikan Pengalaman sebagai Bagian dari Pendidikan
Pementasan Malin Kundang pada akhirnya tidak hanya menjadi aktivitas berkesenian bagi murid PKBM Vokasi Piwulang Becik Semarang.
Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar sosial yang mempertemukan murid dengan pengalaman nyata di luar pembelajaran konvensional.
Di atas panggung, mereka belajar bekerja sama, membangun keberanian, berkomunikasi, memahami peran, serta bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing.
Di luar panggung, mereka juga belajar berinteraksi dengan masyarakat dan memahami nilai kehidupan yang terkandung dalam cerita yang diperankan.
Dengan demikian, proses pendidikan tidak berhenti ketika pembelajaran di kelas selesai. Pengalaman, interaksi sosial, kreativitas, dan refleksi terhadap kehidupan menjadi bagian yang turut membentuk proses belajar murid.
Melalui pembelajaran berbasis projek tersebut, PKBM Vokasi Piwulang Becik Semarang berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga membangun karakter dan pengalaman.
Panggung Malin Kundang pun menjadi gambaran bahwa ruang belajar dapat hadir di mana saja.
Dari sebuah cerita rakyat, para murid tidak hanya belajar menjadi pemain drama, tetapi juga belajar memahami kehidupan, hubungan dengan orang tua, kerja sama, tanggung jawab, dan keberanian untuk tampil sebagai bagian dari masyarakat.***

0 Komentar