Slamet Sumarsono, Atlet Tertua Kota Semarang yang Berjuang di Porprov Jateng 2026

0 Komentar


SEMARANG, (Adaharapan.net) - Usia bukan penghalang untuk terus berprestasi di dunia olahraga. Slamet Sumarsono membuktikan hal tersebut dengan tetap aktif sebagai atlet bridge kontingen Kota Semarang pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026, meski usianya telah menginjak 73 tahun.

Atlet kelahiran 2 Juni 1953 itu menjadi atlet tertua dalam kontingen Kota Semarang.

Dengan pengalaman puluhan tahun, Slamet tetap menunjukkan ketajaman berpikir dan kematangan strategi dalam memainkan olahraga yang mengandalkan kemampuan analisis, konsentrasi, serta kerja sama antarpemain tersebut.

Bersama rekan satu timnya, Tatang, Wito, Yan, Supri, dan Setiawan, Slamet berjuang untuk mewujudkan target medali emas bagi kontingen Kota Semarang di cabang olahraga (cabor) bridge Porprov Jateng 2026.

Meski baru sekitar satu tahun terakhir berpasangan dalam tim, mereka terus mematangkan strategi permainan.

Kemampuan melakukan bidding, menentukan contract, menjalankan peran sebagai declarer, hingga mengatur trick dan trump menjadi bagian penting yang terus diasah dalam latihan.

Pengalaman pada Porprov Jateng 2023, ketika tim bridge Kota Semarang hanya meraih medali perunggu, menjadi motivasi untuk tampil lebih baik pada kompetisi tahun ini.

“Kami latihan sekurangnya dua sampai tiga kali, tiga sampai empat jam dalam sehari, karena bridge memang permainan otak dan strategi,” ujar Slamet.

Bagi Slamet, bridge bukan sekadar olahraga, melainkan aktivitas yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu kementerian tersebut mengaku mulai menekuni olahraga ini sejak berusia 25 tahun.

Selama puluhan tahun berkiprah, Slamet telah mengikuti berbagai kejuaraan nasional dan membawa pulang sejumlah medali.

Salah satu pencapaian yang membanggakan adalah keberhasilannya meraih tiga medali emas pada nomor beregu senior kategori usia 60 tahun di berbagai kejuaraan, termasuk yang digelar di Yogyakarta, Lubuklinggau, dan Padang sekitar 2012.

Prestasinya juga tercatat dalam Liga Bridge Jawa Tengah. Slamet bersama timnya pernah menduduki posisi puncak klasemen, menunjukkan konsistensinya dalam menekuni olahraga tersebut.

Keputusan Slamet memilih bridge berawal dari kesadarannya terhadap kemampuan diri.

Saat masih muda, ia merasa tidak terlalu unggul dalam olahraga yang mengandalkan kekuatan fisik. Sebaliknya, ia melihat potensi dalam kemampuan berpikir dan menyusun strategi.

“Saat muda, saya sadar bahwa saya tidak jago dalam mengolah fisik, namun lebih ke otak sehingga kemudian memilih cabor bridge ini,” tuturnya.

Meski telah lama menekuni bridge, Slamet tidak memaksakan ketiga putrinya mengikuti jejaknya sebagai atlet.

Ia memilih memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk menjalani pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas masing-masing tanpa harus terbebani oleh tuntutan latihan maupun kompetisi.

Dalam perjalanan kariernya, Slamet juga bergabung dengan Djarum Bridge Club. Di klub tersebut, ia pernah berada dalam lingkungan yang sama dengan mendiang Michael Bambang Hartono, atlet bridge Indonesia yang meraih medali perunggu pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018 di nomor super mixed team saat berusia 78 tahun.

Menurut Slamet, salah satu tantangan terbesar dalam bridge adalah membangun kekompakan dan menjaga komunikasi dengan pasangan.

Pemain tidak hanya dituntut memahami strategi permainan, tetapi juga harus menguasai sistem perjanjian yang telah disepakati bersama partner.

“Bermain bridge memang sulit dan harus hafal perjanjian antarpartner dan tidak saling menyalahkan. Ini bisa menjadi kunci sukses,” katanya.

Di luar aktivitasnya sebagai atlet, ayah tiga anak dan kakek enam cucu tersebut juga memiliki hobi memperbaiki peralatan elektronik.

Kegiatan itu menjadi salah satu aktivitas yang dijalaninya di sela-sela kesibukan.

Kisah Slamet menunjukkan bahwa semangat berolahraga dan keinginan untuk berprestasi tidak dibatasi usia.

Dengan pengalaman, kedisiplinan, serta kemampuan berpikir strategis, ia tetap berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi Kota Semarang.

Kini, perjuangan Slamet bersama tim bridge Kota Semarang di Porprov Jateng 2026 menjadi salah satu kisah yang patut dinantikan.

Bukan hanya tentang target medali, tetapi juga tentang konsistensi, kerja sama, dan semangat untuk terus mengasah kemampuan sepanjang hayat.****

0 Komentar